Home/ Opini / Berita

Minggu, 01 Oktober 2017 19:49 WIB

Beban Ganda Ibu Rumah Tangga dalam Perspektif Gender 

Oleh Minawati Anggraini


Banyak sekali orang yang belum bisa membedakan secara jelas antara pengertian sexs dan gender. Sebab istilah sexs dan gender memiliki pengertian yang sama sekali berbeda.

Seks adalah perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang berdasar atas anatomi biologis dan merupakan kodrat Tuhan. Sedangkan gender adalah pembedaan peran, fungsi dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dihasilkan dari konstruksi sosial budaya dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Dalam perkembangan era sekarang ini perempuan sudah mulai mengerti akan pentingnya hak mereka di masyarakat. Mereka sudah tidak mau lagi dianggap remeh atau dianggap lemah dari pihak laki-laki. Tak ada lagi marginalisasi perempuan atau pihak yang tersubordinasikan. Mereka sekarang sudah mulai ingin menunjukkan eksistensinya di dalam masyarakat dan ingin menujukkan bahwa mereka jauh lebih baik dari laki-laki atau paling tidak menunjukkan bahwa mereka bisa sama kedudukannya dengan kaum laki-laki.

Media pun dalam hal ini turut memperkuat konstruksi perempuan yang demikian, baik melalui tayangan maupun iklan yang dibuat. Misalnya, bagaimana perempuan dikonstruksi harus menjadi cantik melalui iklan-iklan kosmetik dan bagaimana perempuan harus menjadi ibu rumah tangga yang baik melalui iklan-iklan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, tidak banyak pihak yang sadar akan hegemoni gender yang telah menyetir kehidupan perempuan.

Berbicara mengenai kesetaraan dan keadilan gender. Di Indonesia masih berada pada titik keadilan, belum pada posisi kesetaraan. Keadilan yang di dapat oleh kaum perempuan memang dewasa ini sudah banyak kita lihat. Namun hal tersebut dominan terlihat pada perempuan yang keluarganya berpenghasilan menengah ke atas, dan belum bagi perempuan yang keluarganya berpenghasilan menengah ke bawah. masih banyak perempuan khususnya ibu rumah tangga yang memegang peran ganda. Memang terlihat begitu sulit pekerjaan laki-laki dan begitu lelah pekerjaan perempuan. Namun hal tersebut tidak terlepas bagaimana seseorang bisa saling melengkapi. 

Di NTB, khususnya di Lombok, masih bisa kita jumpai keberadaan kaum perempuan yang sebagai ibu rumah tangga, mereka juga bekerja di luar rumah. Dan pekerjaan yang mereka kerjakan tidaklah ringan layaknya di dalam ruangan yang berAC. Namun sebaliknya, pekerjaan yang mereka geluti seperti menjadi kuli bangunan, pengantar batu-bata, pemecah batu dan sebagainya. Dimana pekerjaan tersebut seharusnya di kerjakan oleh kaum laki-laki.

Menjadi seorang ibu rumah tangga memanglah di pandang sebelah mata dan menjadi hal yang di sepelekan. Namun jika kita berkaca dari realita di rumah tempat tinggal masing-masing yang berperan paling penting dan besar adalah seorang ibu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, dimana ketika bangun tidur, ibu yang paling dahulu bangun dan ketika akan tidur lagi ibu yang paling belakang tidur. Semua di kerjakan oleh ibu. Seolah-olah yang paling merasa lelah adalah ayah karena keluar mencari kerja atau bekerja. Namun seorang ibu yang sebenarnya paling lelah karena memegang peran ganda.

Dari realita tersebut terjadi ketidakadilan gender dalam kehidupan rumah tangga. Karena selama ini kaum lelaki merasa bahwa mereka yang paling benar dan paling ingin di mengerti. Dan bagi para kaum perempuan khusunya ibu rumah tangga mereka menerimanya dengan baik-baik saja tanpa membrontak secara keras. Itu semua dilakukan untuk kepentingan rumah tangga saja. Perempuan yang pada akhirnya tunduk menjalani rutinitas dalam sektor domestik karena memang tidak ada kemampuan yang kuat dan dukungan yang besar dari lingkungan sekitarnya.

Kepatuhan seorang istri terhadap suaminya dalam pandangan agama islam merupakan suatu keharusan yang dilakukan oleh seorang istri sebagai salah satu bentuk untuk menghormati suaminya, dan merupakan haknya bagi seorang suami untuk mendapatkan perhatian dan penghormatan dari seorang istrinya, tetapi bukan penghormatan untuk memposisikan istri sebagai budak atau hanya sekedar pelayan bagi suaminya itu sendiri, tetapi lebih memposisikan suaminya sebgai pendamping, pembimbing dan pelindung bagi dirinya dan keluarganya baik perlindungan secara batiniyah tetapi juga mencakup rohaniyah bukan sebagai penguasa atau raja yang bias melakukan apapun seenaknya. Tetapi kelemahan seorang istri disini bukan berarti lemah dan mau menerima segala perlakuan yang buruk dari suaminya, akan tetapi justru seorang suami harus menjunjung tinggi dan memuliakan istrinya dengan kelebihan-kelebihan yang dianugrahkan oleh tuhan tersebut.

Keadilan gender harusnya dapat ditegakkan dalam kehidupan rumah tangga dan bermasyarakat. Selain bermasyarakat keadilan gender haruslah di tegakkan juga di dunia pendidikan dan bidang lainnya. Bukan hanya kaum laki - laki saja yang harus sekolah tinggi namun perempuan juga punya hak untuk dapat bersekolah setinggi-tingginya. Supaya sejak awal perempuan dan laki-laki sama-sama paham bagaimana seharusnya keadilan gender dalam bidang apapun.

Selain itu juga perlunya memberikan pengetahuan tentang gender kepada anak-anak sejak dini di dalam keluarga.

Laki-laki dalam rumah tangganya juga harus bisa membantu istrinya walaupun pekerjaan tersebut terbilang sedikit tetapi secara tidak langsung seorang laki-laki tersebut sudah bisa memposisikan dirinya sebagai laki-laki yang adil.

Kemudian laki-laki juga tidak mengizinkan istrinya untuk bekerja di publik dengan pekerjaan yang berat-berat dengan pertimbangan di rumah saja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak-anaknya. Karena tanggungjawab ekonomi keluarga di tanggung oleh laki-laki. Dengan begitu peran perempuan dalam kehidupan rumah tangga tidak ganda.

Baca Juga

Opini
Jumat, 06 Juli 2018 10:29
Generasi Muda Harus Melek Sejarah

 

Opini
Selasa, 05 Juni 2018 09:26
Cerpen: Cinta Paimin Painem

 

Opini
Senin, 22 Januari 2018 08:57
Balada Zaman, Krisis Teologi Al-Alaq!!!

 

Opini
Senin, 30 Oktober 2017 15:13
Demokrasi dan Bui untuk Kami

 

Opini
Kamis, 05 Oktober 2017 11:09
Makna Tahun Baru bagi Indonesia 

 

Opini
Selasa, 03 Oktober 2017 05:18
Membangun Nasionalisme  Pemuda

 

 

Berita Daerah  -  Sabtu, 11 Agustus 2018 10:12
Pengumuman Peserta Peneleh Youth Volunteer Camp III 

Penelehnews.com, Kediri- Berikut nama-nama calon peserta yang berhak mengikuti seluruh rangkaian Program PYVC III Kediri.PYVC adalah salah satu jalur pengkaderan yang dilakukan oleh Yayasan Rumah Peneleh. Di PYVC ini fokus pada . . .
Selengkapnya

 

 -  Selasa, 07 Agustus 2018 17:13
Pendaftaran Peserta Sekolah Relawan Riset Peneleh 5 Palu

Pendaftaran Peserta Relawan Riset Peneleh 5.Peneleh Research Institute bersama Universitas Muhammadiyah Palu mengajak bapak, ibu, saudara/i untuk mengikuti program riset berpihak yang akan dilaksanakan pada Jumat-Minggu, 20-23 . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Selasa, 24 Juli 2018 08:02
PENDAFTARAN PESERTA PENDIDIKAN DASAR NASIONAL (DIKSARNAS) : SEKOLAH AKTIVIS PENELEH KE - VI

"Berjuang memang melelahkan, terjal, dan penuh kesedihan, tetapi itu hanyalah riak dan buih. Berjuang asasi pasti penuh keindahan, tanpa keluhan berarti, ketika kita mampu menjadi ombak yang menggulung lautan..."_(Dr. Aji Dedi . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Jumat, 13 Juli 2018 14:57
Aktivis Peneleh Regional Kediri diundang sebagai komunitas peduli budaya dalam acara Seminar Budaya Panji Nusantara: Kearifan Budaya Panji Pemersatu Nusantara

Dalam acara ini hadir pembicara:1.Prof.Dr. Aris Munandar, M.Hum2. Rudi irawanto, S.Pd, M.Sn3. Drs. Eko Ediyono, M.Hum .Aktivis peneleh regional kediri bersama 19 komunitas lain peduli sejarah memamerkan beberapa kegiatan pelestarian . . .
Selengkapnya

 

Opini  -  Jumat, 06 Juli 2018 10:29
Generasi Muda Harus Melek Sejarah

Oleh Nurul Aini, Aktivis Peneleh Regional MaduraPeristiwa-peristiwa lampau yang dialami oleh leluhur tampaknya telah hilang diingatan masyarakatnya. Laiknya sejarah, tidak boleh begitu saja terlepas dari peradaban modern. Upaya . . .
Selengkapnya