Home/ Opini / Berita

Sabtu, 02 September 2017 19:48 WIB

Derita Dibalik Deru Laut dan Gerak Ikan

Foto penulis

Oleh Moh. Tamimi*

Laut seumpama laki-laki yang kerap kali selalu mengungkapkan kegelisahannya lewat kata-kata. Sedangkan ikan-ikan di laut, di dasar laut sekali pun, seumpama perempuan yang selalu ingin dimengerti tanpa harus berkata, cukup dengan gerak simbol keinginan untuk diperhatikan lebih seksama. Apa guna laut tanpa ikan-ikan di dalamnya. Apa daya para ikan ketika laut tak lagi tenang, penuh gelombang bergulung dengan garang.

Ah, seandainya aku punya kuasa menenangkan laut dan memberikan perhatian lebih terhadap penghuninya itu, maka akan aku laksanakan semua itu sebaik mungkin. Kasihan laut dan para ikan yang bersahaja itu, sekian lama mereka kurang mendapat perhatian, mau dibilang didiskriminasikan saya takut salah persepsi. Tiga puluh tahun lebih mereka kurang berdaya, kalah kepada pasukan darat yang gagah perkasa, padahal mereka adalah mayoritas di wilayah Indonesia. Penghuni laut, kerap kali menangis tersedu-sedu karena sanak familinya kerap kali diculik tetangga sebelah.

Kalau saja aku mempunyai kuasa mengurusi mereka semua, memberdayakannya, melindunginya, dengan sepenuh kemampuanku, aku akan senang. Aku akan merancang beberapa strategi, dalam hal itu, supaya kehidupan mereka semakin lebih berarti.

Pertama, saya akan memprioritaskan keamanan, supaya permukaan laut tak lagi bergelombang dan bergemuruh semberaut, situasi tenang. Masalah keamanan membutuhkan i'tikad kuat untuk melaksanakannya dengan baik. Ancaman dari berbagai penjuru angin pasti ada, semakin luas permukaan lautan, maka semakin leluasa angin menghempas dan terik matahari yang semakin menjadi-jadi mengeluarkan panasnya. Walaupun, awalnya, keadaan tenang dan damai, datangnya angin dapat menggaduhkan keadaan dengan berbagai kepentingan yang tersimpan di baliknya. Harus ada penghadang kuat untuk menahan angin, terutama Mangrof di pinggir pantai, jika ancaman itu adalah angin. Akan tetapi, kalau yang datang adalah segerombolan manusia yang tak bertanggung jawab, harus ada militer kuat yang siap menghadang dan menenggelamkannya jika menentang peringatan yang sudah dilayangkan sejak jauh hari untuk tidak mengganggu wilayah kekuasaanku. Aku setuju dengan pendahuluku yang menenggelamkan setiap kapal ilegal yang masuk ke wilayah tetorial laut kebanggaanku, Indonesia.

Apabila laut sudah aman dari gangguan keserakahan manusia, maka tinggal penataan lebih lanjut, memberikan laut teman bercengkerama, yaitu burung-burung yang mampu bersiul indah di permukaannya dan mereka akan melepas lelah di atas ranting-ranting pohon di pinggir pantai. Gemuruh ombak bukan lagi sebuah pemberontakan, melainkan nyanyian kedamaian yang penuh keindahan. Lidah ombak bercumbu mesra bibir pantai dan menyentuh damai jemari-jemari Mangrof.

Setelah masalah keamanaan selesai dan kedamain gelombang laut telah terjalin, maka langkah kedua adalah pemberdayaan si laut dan si ikan. Tersebab aku bukanlah seorang yang begitu ahli dalam hal kelautan, maka sebagai jalan keluar dari keterbatasanku ini, aku akan membiayai para peneliti handal mengenai kelautan dan perikanan untuk melakukan penelitian lebih mendalam terkait dua hal tersebut. Terlebih dahulu/di samping itu, aku akan berusaha melakukan komunikasi secara intensif terhadap semua perguruan tinggi di Indonesia atau beberapa perguruan tinggi di luar negeri sekalipun untuk memantau serta menindak lanjuti penelitian mahasiswa, baik skripsi, disertasi, atau tesis, terkait kelautan dan perikanan atau yang bersangkut paut dengan keduanya yang sekiranya memang patut untuk dipertimbang dan diterapkan di lapangan, jikalau semua itu efektif dan efesien untuk diterapkan. Aku tidak akan sembarangan dalam mempertimbangkan semua karya mahasiswa itu, aku akan undang para pakar kelautan dan perikanan untuk membantuku mengatasi itu semua. Kupikir, cara ini sangat efektif dalam memperdayakan wilayah maritim, sekaligus menghargai kerja keras karya anak bangsa, yang selama ini hanya seolah diserakkan begitu saja setelah sang penulis/peneliti diwisuda/dikokohkan menjadi sarjana, tidak ada tindak lanjut terhadap karyanya yang dilakukan secara susah payah selama beberapa bulan atau bahkan, mungkin, sampai beberapa tahun.

Semua itu, memang tidak semudah seperti aku menulis tulisan ini, dalam menerapkannya, kesungguhan memang benar-benar dibutuh. Ah, kalau aku sudah mempunyai kuasa seperti itu, aku akan sungguh-sungguh mengerjakannya. Aku yakin, aku bisa. Kata orang-orang, "tak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha." Ya, aku akan berusaha, inilah tekadku.

Strategi lapis tiga adalah pengembangan. Strategi yang terakhir ini cukup untuk memperbanyak keringat dari biasanya. Setelah laut dan penghuninya sudah terberdayakan dengan baik, pengembangan ini sangat perlu, baik pengembangan kualitas laut atau pengembangan laut dan hasil laut. Pantai dirias semakin cantik, dalam hal ini bekerja sama dengan pihak penguasa pariwisata. Hasil laut dikelola dan diolah dengan baik, dalam hal ini bisa bekerja sama dengan penguasa perdagangan. 

Seorang temanku pernah bercerita kepadaku, perihal nasib tumpukan ikan di pulaunya. Sekitar tahun 2004, di Pulau Talango, pulau di sebelah timur Pulau Madura, terdapat sekitar 10 gudang ikan, namun kini, semua gudang itu gulung tikar karena semakin minimnya minat masyarakat menjadi nelayan tangguh. Sebagian besar masyarakat di pulau itu melakukan urbanisasi besar-besaran, mendirikan toko-toko kelontongan di setiap sudut ibu kota .

Masalah yang dihadapi masyarakat ini sebenarnya adalah "pengembangan pasar." Mereka kurang mengerti mau dikemanakan/atau diolah bagaimana ikan sebanyak itu. Sehingga, harga ikan murah dan mereka kurang tertarik untuk menjadi nelayan. Kalau aku bisa bertindak, aku akan menyuruh mereka pulang dan akan memberikan pelatihan terhadap mereka itu cara mengatasi hasil laut yang berlimpah ruah itu, tentu dengan menunjukkan persentasi penghasilan yang lebih tinggi daripada menjadi masyarakat urban di luar sana.

Orang-orang pantai, sekalipun begitu dekat dengan laut, terkadang tak mengerti apa yang ia harus perbuat dengan laut dan hasil laut yang menjadi mata pencaharian mereka, seperti halnya mengolah rumput laut menjadi bahan jadi/barang yang lebih produktif. Mengenai rumput laut, masyarakat Madura yang kulihat, mereka tahunya hanya menjadikannya rap orap (rumput laut yang direbus dan ditaburi parutan kelapa), paling mentok dibuat agar-agar rumput laut. Padahal, kegunaan rumput laut tidaklah sedikit, seperti bahan kosmetik yang mempunyai nilai ekonomis sangat tinggi.

Lain lagi masalahnya dengan sebagian nasip orang-orang pantai di sebagian pesisir timur Madura yang lain, masyarakat di sana sulit untuk menikmati lezatnya ikan Teri karena selepas para nelayan datang melaut dan membawa box berisi ikan Teri, mereka harus menjualnya ke gudang tertentu, kalau tidak, kedepannya hasil tangkapan mereka tidak akan dibeli. Gudang yang membeli ikan tersebut akan mengekspor ke Jepang. Nelayan dan wilayah sekitarnya seolah menjadi buruh di tanah sendiri untuk orang di antah berantah sana, tak ikut menikmati lezatnya Teri.

Kasihan aku pada mereka, seandainya tanganku mampu menggapai mereka, aku akan mengangkat pekerjaan mereka menjadi produsen hebat di tanah leluhur dengan cara memberikan pelatihan, begitu pula wilayah-wilayah lain di Indonesia yang mempunyai kasus serupa. Ikan bisa diolah menjadi petis, terasi, sarden, dan makan siap saji maupun setengah siap saji lainnya yang lebih higenis dan menguntungkan. Aku akan lebih senang menjadi pengekspor terasi dan bahan olahan ikan lainnya daripada menjadi pengekspor ikan saja. Tentu, labanya akan semakin besar dari pada sekadang mengekspor ikan doang. 

Apabila laut dan penghuninya itu hidup dengan damai dan sejahtera, maka orang-orang sekitar juga ikut merasakan kebahagiaan mereka itu, termasuk aku. Aku akan memetik gitar dan melantunkan lagu karya Iwan Fals, "suatu hari, ketika duduk di tepi pantai dan memandang ombak di lautan yang kian menepi. Burung Camar terbang bermain di derunya air, suara alam ini, hangatkan jiwa kita," sambil lalu menikmati indahnya senja di tepi pantai dan menyaksikan para ikan-ikan bercanda dengan para burung dan burung-burung berdialog dengan gelombang, menghibur dalam ketenangan.  Tiga hal di atas adalah pekerjaan prioritasku, seandainya aku mempunyai kuasa. Selebihnya, bisa dibicarakan kemudian dengan rekan-rekanku. 

Semua cita-cita untuk menjadikan ikan di lautan merdeka dan gulungan ombak berjaya, mungkin hanya jadi khayalan belaka, manakala aku masih seperti ini, tidak menjadi penguasa yang mampu menjulurkan tangan ke mana-mana, yakni menjadi seorang Menteri Kelautan dan Perikanan. Semoga aku dapat berguna bagi seluruh rakyat ikan di negeri laut dan masyarakat secara luas. Amiin.

*Moh. Tamimi, lahir di Sumenep, 24 September 1995. Kuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqah (Instika), Guluk-guluk, Sumenep.


Baca Juga

 

Berita Daerah  -  Selasa, 26 September 2017 05:47
Bus Kota tak Beroperasi, Pemkot Mataram Merugi 

PENELEHNEWS.COM, Mataram- Operasional Bus Rapid Transit (BRT) atau jalur khusus bus kota, hingga kini belum jelas. Dishub Pemkot Mataram pun merugi. Kendaraan bus yang merupakan bantuan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terlihat . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:39
Masyarakat Desa Sera Tengah Sumenep Peringati Bulan Moharrom dengan Tradisi Sorah

PENELEHNEWS.COM, Sumenep- Masyarakat Desa Sera Tengah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, memperingati bulan Muharrom dengan tradisi Sorah, yaitu mengantarkan Ghenthar Sorah ke sanak famili dan tetangga dekat. Tradisi ini dilakukan . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:21
IIBF Gelar Diskusi "Juguran Peradaban Hijrah untuk Negeri".

PENELEHNEWS.COM, Purwokerto - Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) mengadakan kegiatan dengan tema "Juguran Peradaban Hijrah untuk Negeri". Acara yang diselenggarakan di Pendopo Dirjo Putro Jl. Supriyadi no. 3 Purwokerto, Jawa . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:02
Bank Indonesia bersama Masyarakat Ekonomi Syariah Banyumas Selenggarakan Diskusi "Kemandirian Ekonomi Pesantren"

PENELEHNEWS.COM, Purwokerto- Bank Indonesia (BI) dan Masyarakat Ekonomi Syariah Banyumas bekerjasama melakukan diskusi bertema "Kemandirian Ekonomi Pesantren". Acara tersebut dilaksanakan di Gedung BI Perwakilan Purwokerto, pada . . .
Selengkapnya

 

Humaniora  -  Minggu, 24 September 2017 08:06
Aktivis Peneleh Regional Jakarta dan Pos Solidaritas Umat LDK Syahid Adakan Kegiatan "Sehari Bersama Anak Kampung Pemulung", Ciputat Tangerang Selatan

PENELEHNEWS.COM, Tangerang- Aktivis Peneleh Regional Jakarta bekerja sama dengan Pos Solidaritas Umat (PSU) LDK Syahid akan mengadakan Bakti Sosial di Kampung Pemulung, Ciputat, Tangerang Selatan. Bakti sosial yang mengangkat . . .
Selengkapnya