Home/ Opini / Berita

Jumat, 01 September 2017 19:59 WIB

Rekayasa Genetika dalam Bioetik Agama Islam

Ilustrasi

Hukum Kloning Reproduksi Manusia Cloning pada manusia termasuk isu besar, namun respon dariulama Indonesia melalui ijtihad jamai maupun individual belum cukup representatif. Fatwa terhadap cloning antara lain, datang dari Bahtsul Masail yang diberikan sangat singkat dan belum tuntas, sehingga diperlukan fatwa lanjutan. Fatwa yang cukup memadai datang dari MUI (2000). Sebelumnya lembaga fatwa yang lain menetapkan hukumnya, diduga karena hal tersebut belum terjadi dan kemungkinan terjadinya masih sangat jauh sehingga dianggap tidak mendesak, atau karena illat hukum cloning manusia sangat jelas sehingga tidak perlu ditetapkan hukumnya secara khusus, dapat dikiyaskan kepada hukum inseminasi buatan atau bayi tabung. Memproduksi atau melipatgandakan anak manusia melalui proses cloning akan meniadakan berbagai pelaksanaan hukum Islam, seperti tentang perkawinan, nasab, nafkah, hak dan kewajiban antara orangtua dan anak, waris, perawatan anak, hubungan kemahraman, dan lain-lain dilihat dari segi teknis dan dampak hukum yang ditimbulkannya, cloning embrio dapat disamakan dengan bayi tabung. Karena itu, jika batas-batas diperkenankannya bayi tabung, seperti asal pemilik ovum,sperma, dan rahim terpenuhi, tanpa melibatkan pihak ketiga (donor atau sewa rahim), dan dilaksanakan ketika suami-isteri tersebut masih terikat pernikahan maka hukumnya boleh. 

Dengan begitu, anak kembar yang dilahirkan akan berstatus sebagai anak sah pasangan tersebut. Hukum cloning, dilihat dari teknis dan dampaknya dapatdipersamakan dengan inseminasi buatan atau bayi tabung, Ulama sepakat bahwa setiap upaya mereproduksi manusia yang berdampak dapatmerancukan nasab atau hubungan kekeluargaan, lebih,-lebih kalau kontribusi ayah tak ada dalam cloning ini, maka hukumnya lebih haram. Dari dampak teringan tingkat kerancuannya pada praktik inseminasi buatan dan bayi tabung adalah praktik penitipan zigot yang berasal dari pasangan poligamis di rahim isterinya yang lain hukumnya haram, apalagi cloning manusia yang lebih merancukan hubungan nasab dan kekeluargaan. Kerancuan nasab yang ditimbulkan dari cloning reproduksimanusia yang teringan, meskipun sel tubuh diambil dari suaminya, tetapmenghadirkan persoalan rumit, yaitu menyangkut status anaknya kelak,sebagai anak kandung pasangan suami-isteri tersebut atau kembaranterlambat dari suaminya, atau dia tidak berayah, mengingat sifatgenetiknya 100 % sama dengan suaminya. Jika demikian, maka anaktersebut lebih tepat disebut sebagai kembaran dari pemberi sel. Jika sebagai kembaran atau duplikat terlambat suaminya, bagaimana hubungannya dengan wanita itu dan keturunannya serta anggotakeluarganya yang lain. Apalagi jika cloning diambil dari pasangan yangtidak terikat pernikahan yang sah, atau anak klon yang berasal dari sel telur seorang wanita dengan sel dewasa wanita itu sendiri atau dengan wanita lain, maka tingkat kerancuannya lebih rumit. Tidak berasal dari mani (sperma). Di samping itu, yang masih diperdebatkan mengenai usia anak klon, dugaan terkuat menyatakan akan sama dengan usia dari pemberi sel. 


Bahtsul Masail pada Munas NU (Lombok Tengah, 17-20 November 1997) menyepakati tentang hukum cloning gen pada manusia hukumnya haram. Alasannya, proses tanasul (berketurunan) harus melalui pernikahan secara syari, bisa mengakibatkan kerancuan nasab,dan penanamannya kembali ke dalam rahim tidak dapat dilakukan tanpamelihat aurat besar . Fatwa yang sama diputuskan oleh MUI, pada Munas VI (25-29 Juli2000) menetapkan hukum cloning terhadap manusia, dengan cara bagaimana pun yang berakibat pada pelipatgandaan manusia hukumnya adalah haram.


Baca Juga

Opini
Sabtu, 02 September 2017 19:48
Derita Dibalik Deru Laut dan Gerak Ikan

 

Opini
Jumat, 01 September 2017 19:50
Narkoba Merusak Masa Depan Bangsa

 

Opini
Kamis, 31 Agustus 2017 17:31
Indonesia Butuh Ideologi Baru?

 

 

Berita Daerah  -  Selasa, 26 September 2017 05:47
Bus Kota tak Beroperasi, Pemkot Mataram Merugi 

PENELEHNEWS.COM, Mataram- Operasional Bus Rapid Transit (BRT) atau jalur khusus bus kota, hingga kini belum jelas. Dishub Pemkot Mataram pun merugi. Kendaraan bus yang merupakan bantuan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terlihat . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:39
Masyarakat Desa Sera Tengah Sumenep Peringati Bulan Moharrom dengan Tradisi Sorah

PENELEHNEWS.COM, Sumenep- Masyarakat Desa Sera Tengah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, memperingati bulan Muharrom dengan tradisi Sorah, yaitu mengantarkan Ghenthar Sorah ke sanak famili dan tetangga dekat. Tradisi ini dilakukan . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:21
IIBF Gelar Diskusi "Juguran Peradaban Hijrah untuk Negeri".

PENELEHNEWS.COM, Purwokerto - Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) mengadakan kegiatan dengan tema "Juguran Peradaban Hijrah untuk Negeri". Acara yang diselenggarakan di Pendopo Dirjo Putro Jl. Supriyadi no. 3 Purwokerto, Jawa . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:02
Bank Indonesia bersama Masyarakat Ekonomi Syariah Banyumas Selenggarakan Diskusi "Kemandirian Ekonomi Pesantren"

PENELEHNEWS.COM, Purwokerto- Bank Indonesia (BI) dan Masyarakat Ekonomi Syariah Banyumas bekerjasama melakukan diskusi bertema "Kemandirian Ekonomi Pesantren". Acara tersebut dilaksanakan di Gedung BI Perwakilan Purwokerto, pada . . .
Selengkapnya

 

Humaniora  -  Minggu, 24 September 2017 08:06
Aktivis Peneleh Regional Jakarta dan Pos Solidaritas Umat LDK Syahid Adakan Kegiatan "Sehari Bersama Anak Kampung Pemulung", Ciputat Tangerang Selatan

PENELEHNEWS.COM, Tangerang- Aktivis Peneleh Regional Jakarta bekerja sama dengan Pos Solidaritas Umat (PSU) LDK Syahid akan mengadakan Bakti Sosial di Kampung Pemulung, Ciputat, Tangerang Selatan. Bakti sosial yang mengangkat . . .
Selengkapnya