Home/ Opini / Berita

Jumat, 01 September 2017 19:26 WIB

Emansipasi Mazhab Politik: Ketika Pemuda Berijtihadkan Sosial Media

Ilustrasi

Anggapan kita sebelumnya telah terjadi dikotomi tajam antar bermazhab dan berijtihad. kelompok orang tergolong bermazhab seolah tidak pernah menyentuh praktik ijtihad, sedangkan orang yang berijtihad seolah tidak pernah memperaktekkan perspektif-perspektif mazhab. Di ranah politik misalnya, banyak pemeran politik belum mengenal kaidah-kaidah berpolitik. sehingga ada yang dinamakan dan mengklasifikasian Politik Elit dan Politik Bangsawan. 

Legitimasi kekuasaan saat ini cenderung tirani ideologi, seakan berkuasa adalah segalanya dan seruan keadilan adalah  tujuan paling  fundamental dalam tatanan politik untuk kesejahteraan rakyatnya. Namun kenyataannya, keadilan hanya berlaku bagi pemain politik, politik elit dan politik bangsawan, sedangkan rakyak menjadi kambing hitam dalam melancarkan aksi politiknya. Sehingga  praktik hedonisme yang menganggap kesenangan batin atau berkuasa menjadi tujuan termaktub dalam hidupnya, menjadi trending dalam dunia politik. bahkan praktek ini menjalar dari politikus tinggi  sampai pelaku politik bawah, para pengikut bilang Mau bagaimana lagi, diatas sudah seperti itu kok. Saya hanya bisa ikut saja. Kaum politik elit dan politik bangsawan seperti raja penguasa singgasananya, hierarki kekuasaan menjadi praktik politik monarki dan cenderung diktator kalem, maka tidak asing lagi jika banyak penguasa menggunakan segala cara agar dianggap baik dan tercapai segala harapan.

Pemeran politik akan dikatakan baik oleh sejawat politik jika ia mampu mengendalikan keadilan bagi para bawahannya serta memilih, memilah dan membagi sesuai porsi laku politik monarki yang berlaku. misalnya, pemeran politik cenderung mengangkat kerabat, teman se-Parpol atau teman dari kerabat. untuk berkiprah menjadi laku politik dalam tatanan politiknya, sehingga nanti dapat memudahkanya melakukan segala tindak politik.  

Sebagai bangsa yang berideologi Pancasila dengan lima butirnya, rasanya cukup rancu, jika kita melihat praktik politik saat ini. Seperti sila pertama Ketuhanan yang maha esa sebagai fundamen moral Pancasila, sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab membatasi implikasi spritual dalam forum interaksi antar manusia, yang ditekankan pada pesan keadilan. Relasi pesan keadilan ini akan mengantarkan manusia dan masyarakat Pancasila membagun keadaan dan peradaban spritual. Acuan materialis ditekankan lebih pragmatis pada sila kelima Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, sehingga keadilan dan kemakmuran yang ingin digapai dalam filsafat pancasila secara langsung dijiwai oleh spritualitas peradaban dan keadaban. Namun butir Pancasila saat ini bak kitab-kitab agama yang sudah berdebu di pojok rumah, sang pemilik sudah merasa bisa dan basi untuk membaca, memperaktikkan serta sebagai syarat bahwa dia beragama. Sehingga tidak sedikit para penguasa membusungkan dada. Ada yang main todong, ada yang main hujat, ada yang mainnya secara halus asal ada komisi, semua pasti. Keadaan dan praktik spiritual seakan sudah mulai buyar dimakan zaman, seiring berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang mampu mengalihkan atau memanipulasi hierarki politik. Walau dalam praktik politik, kita sudah mengenal lama adanya larangan kekerasan, main suap, dan pemalsuan dokumen. Namun hal ini hanya sebagai wacana pelengkap dalam tatanan politik, sehingga para mujahid politik mengalihkan semuanya pada media sosial agar masyarakat bisa beranggapan laku politik bersih, dan seakan-akan tidak ada praktek distorsi  ideologi. 

Tak hayal jika para penguasa menggunakan media sosial sebagai sarana mengijtihadkan perspektif yang menurutnya jalan terbaik untuk mencapai klimak kekuasaan. Memainkan olah pikir masyarakat agar tertuju pada media-media dengan framing jejak politik-hitam. Kepiawaian pemerintah mengalihkan masyarakat pada dunia media sosial, berjalan cukup alot. Banyak laku-politik yang telah berhasil menjadikan media sosial sebagai sarana proses pengalihan pola pemikiran, sehingga masyarakat tidak lagi peduli dengan politik dan terlenan dengan dunia media sosial. Sasaran paling utama adalah pemuda, karena dari pemudalah semua akan tumbuh dan dengan pemudalah semua akan berkembang. contoh saja dalam sarana sosial media, pemuda yang diharapkan menjadi agent of change dan agent of control dalam dunia moral sehingga bersifat normatif. tetapi kenyataannya doktrin media sosial membuat para pemuda pindah haluan pada jalan hedonisme. maka pengalihan pengetahuan pada media sosial seperti inilah dimanfaatkan penguasa untuk memburamkan pemuda dalam dunia politik. banyak pemuda yang acuh tak acuh terhadap politik, membiarkan para politik elit dan bangsawan politik menerapkan politiknya yang notabene berdampak pada pemuda, namun mereka hanya diam saja dan berseru "masa bodoh dengan politik". Hegemoni media telah menghancurkan syaraf peran aktif pemuda dalam politik.

Baca Juga

Opini
Kamis, 06 Desember 2018 04:17
STRATEGI RAMPUNGKAN SKRIPSI ALA HUMANIORA

 

Opini
Jumat, 06 Juli 2018 10:29
Generasi Muda Harus Melek Sejarah

 

Opini
Selasa, 05 Juni 2018 09:26
Cerpen: Cinta Paimin Painem

 

Opini
Senin, 22 Januari 2018 08:57
Balada Zaman, Krisis Teologi Al-Alaq!!!

 

Opini
Senin, 30 Oktober 2017 15:13
Demokrasi dan Bui untuk Kami

 

 

Politik  -  Sabtu, 20 April 2019 12:06

Penelehnews.com, Singosari- Angka dan Statistik mulai dipertanyakan keabsahannya secara moral hari-hari ini, begitu selesai pencoblosan dalam rangka pemilihan umum serentak untuk memilih Presiden, anggota Legislatif, dan . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Sabtu, 20 April 2019 12:04
Aktivis Peneleh Surabaya Bedah Tema Sekolah Aktivis 

Penelehnews.com, Sidoarjo- Tanggal 19-21 April 2018, Aktivis Peneleh Regional Surabaya melangsungkan Sekolah Aktivis Peneleh Regional (SAPR). Agenda ini dilaksanakan di Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo, diikuti oleh aktivis dari . . .
Selengkapnya

 

Opini  -  Selasa, 08 Januari 2019 16:10
Englishopedia, Tempat Kursus Bahasa Inggris Gratis di Jogja

Penelehnews.com, Jogja- Mendapatkan pendidikan yang layak sebagai warga negara adalah hal yang sangat utama dalam menjalani hidup terutama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di masa mendatang. Dalam hidup ini setiap . . .
Selengkapnya

 

Opini  -  Kamis, 06 Desember 2018 04:17
STRATEGI RAMPUNGKAN SKRIPSI ALA HUMANIORA

Oleh : Destri Andriani Skripsi menjadi cemilan yang paling mengenyangkan bagi mahasiswa perguruan tinggi di tingkat akhir. Apapun strata sosialnya, cantik ataupun gantengnya, aktif atau tidak di organisasinya, rajin ataupun malasnya, . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Rabu, 05 September 2018 14:11
Dr. Ari Kamayanti Isi Materi di FGD Politeknik Imigrasi

Penelehnews.com, Malang- Dr. Ari Kamayanti, Peneliti Senior Peneleh Research Institute, memberi materi di acara Focus Group Discussion yang diadakan oleh Politeknik Imigrasi.Acara yang bertema Pengembangan Kurikulum, Akreditasi, . . .
Selengkapnya