Home/ Opini / Berita

Minggu, 26 Juni 2016 14:38 WIB

BERHALA-BERHALA AGAMIS

Aji Dedi Mulawarman

Hari-hari ini kita saksikan kemajuan dunia bergerak tak henti, seharian tak cukup, ekstensi lebih bagus lagi menuju semalaman, detik ke detik, di seluruh pelosok negeri-negeri berpenghuni yang katanya hasil evolusi homo erectus menjadi homo sapiens ini, seakan melakukan tragedi "sulap" darwinisme tak hanya pada tubuhnya, tetapi juga pada materialisasi teknologi dan perputaran ekonomi-bisnis global, bahkan lebih dari itu mekanisasi interaksi kebudayaan masyarakat dalam ruang pluralisme, demokratisasi, sampai ujungnya free will kemanusiaan atas nama laissez faire untuk kebahagiaan duniawi. Inilah yang penulis sebut sebagai berhala-berhala dunia. Tak ada lagi itu bahasa Al Qur'an tentang perbedaan siang dan malam, siang waktumu berjuang sedang malam waktumu meredakan aktivitas fikir dan fisikmu, menuju penataan keseimbangan kosmologis diri sekaligus meningkatkan puncak religiusitas. Yang ada adalah siang dan malam semua untuk berjuang atas nama kehendak diri memuaskan kebahagiaan lewat penciptaan materialisasi teknologi yang berjalin kelindan dengan kepentingan kekuasaan, politik, ekonomi, bisnis, dan lainnya yang jelas semua untuk diri, boro-boro ummat. Titik.

Maka menjadi penting berhala-berhala uang direpresentasikan pada shift pabrik-pabrik mencetak kebutuhan umat manusia, bila perlu ada intranet, webcam, lembur ganda, asal akuntan dapat mencatat hasil kerja manager produksi dalam bentuk bottom line income dan bottom right side setoran untuk pemegang saham. Berhala posmodern kemudian mewujud pula pada Internet melalui backbone-backbone virtual-nya dihidupkan tanpa jeda kematiannya lewat penunjang kehidupan server, tower, sampai pada power-supply listrik tanpa henti, demi melayani hasrat manusia menjelajah dunia maya bukan hanya untuk pemuasan akumulasi rupiah, dolar, euro, dan mata uang manapun, disediakan pula untuk hasrat penuh kesemuan kecantikan, gagah, nikmat, atau apapun. ATM dan alat penggesek uang plastik berbentuk kartu sebagai penyimpan energi berhala uang kemudian menghadirkan berhala turunannya, yaitu kebutuhan siapapun yang menghendaki transaksi bisnis, politik, hiburan, bahkan sampai ritual pengganti shalat malam, yaitu diskotik dan satanic party di manapun dengan sajian irama musik berdentum untuk dapat menjingkrakkan kaki, menggelengkan kepala, sembari mata merem melek, mulut minum TKW dan tak ketinggalan menyedot herbal ganja yang nantinya berubah nama jadi cimeng/rasta, dulunya ditanam dan diproduksi membantu ibu-ibu menahan sakit dalam melahirkan, kalau perlu ditiru sintetiknya apapun mereknya entah itu putaw, coke, atau butterfly, apapunlah asal dapat junkie, sedotan ke otak demi memuncakkan f/y stone kalau perlu sampai jackpot.

Di sela-sela itu pula tempat-tempat ritual penyembahan berhala juga berubah wujudnya dalam ruang-ruang pertemuan informal yang memang menjadi lebih penting dilakukan di malam hari daripada di meja-meja kantor dan rapat formal, oleh para pembuat patung-patung berhala baru, yaitu penentu kebijakan negara, politisi, akademisi, pengaman negara (baik itu polisi maupun tentara), memenuhi undangan para cukong yang juga sudah ditemani oleh bankir bermental jabatan dan target bulanan untuk meningkatkan akumulasi bisnis. Tak ketinggalan ditemani economic hitman paling mutakhir perwakilan lembaga keuangan dunia sampai makelar ajaran yang baru lulus dari kampus ternama dengan menyandang pemimpin organisasi kepemudaan agamis/sekuler nasional yang juga telah berinteraksi secara internasional dengan para pemuda di negeri lainnya yang entah mereka punya perilaku sama atau tidak. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil menikmati hidangan dari negeri jiran, jepang, atau bahkan Italia, yang jelas ndak kelas kalau restorannya itu menyajikan tempe bacem atau sayur asem, apalagi nasi padang, karena itu hanyalah kelas basa basi yang dihidangkan di istana negara untuk menyenangkan para budayawan yang masih menginginkan supremasi majapahit, sriwijaya atau apapun itu, tetap hidup dalam kenangan, kalau perlu juga semua pakai batik sebagai simbol kebudayaan nasional, yang sekarang sudah digelontor negeri Cina Daratan dengan harga lebih murah.

Maka tak perlu menunggu terlalu lama, berhala administratif muncul dalam bentuk perijinan dari pemerintah daerah sampai pusat, baik HO, pertanahan, perindustrian, perkebunan, pertambangan, AMDAL, dan ganti rugi tipu-tipu semua telah disiapkan tim hukum, tim teknis sampai laporan keuangan oleh akuntan internal maupun Kantor Akuntan Publik berafiliasi Big Four, merapikan seluruh rancangan, tak terkecuali para poli(ti)si dan tentara jadi dewan komisaris, dan muncullah kelapa sawit, lubang-lubang galian pasca pertambangan, penebangan hutan, dan apapun, pokoknya satu, menghancurkan sekaligus mengganti semua tanaman aneka ragam menjadi satu ragam saja di hampir seantero pula non Jawa. Tujuannya APBN terisi uang untuk bayar gaji PNS, bayar utang, bangun jalan, jembatan, bandara, dan yang bisa dibangun apa saja pokoknya membangun.

Rakyat bagaimana? Rakyat malah sebenarnya dijauhkan dari berhal-berhala itu, dalam bentuk kooptasi pikiran hanya pada peran bisnis kecil saja gak papa kan UKM itu tahan goncangan ekonomi, ndak perlu khawatir krisis dan resiko bunga serta jatuhnya harga saham, cukup dikejar-kejar pajak, kalau perlu tutup itu rekening untuk menjarah harta mereka, sita, ancam, dan apapun langkah pegawai pajak asal rakyat kecil membayar pajak, iuran ke negara yang dalam Islampun itu tidak dibenarkan, tetapi pegawainya hampir semua tawaddu', berkening hitam, rajin umroh-haji, shalat tak putus, gaji paling tinggi, apa lagi yang tak dinikmati pegawai pajak? Sedangkan para koruptor, antek Orde Baru, dan Cukong, termasuk pejabat negara, poli(ti)si, tentara, dan hitman lokal yang bisa menjarah negeri ini, sak anak cucunya termasuk penerus tradisi bisnisnya yang katanya ciri-cirinya berbusa-busa melakukan aktivitas bisnis dari bawah, plus lulusan MBA, atau Komunikasi Politik atau Bisnis, diamankan kepentingan pajaknya, bahkan kalau perlu ada RUU untuk tax amnesty. Negeri ini memang tak berlebihan bila sudah bertuhankan pada Birokrasi maka semua harus berbasis "administrative evil"-nya Balfour, berulang dan dibentuk berdasarkan "ritual politeness"-nya Goffman, maka wajar bila di dalamnya "political decay"-nya Fukuyama akan menjadi "Bureaucracy's Conspiracy Theory"-nya Graeber et al. untuk mempertahankan sistem dan menjatuhkan siapa dan apa saja

Bukan hanya pajak, kalau perlu UU Pertambangan, UU Migas, UU BUMN, UU Pendidikan, UU apa saja, lo bukan hanya UU, malah UUD 1945-pun harus didesain seperti kehendak para penikmat dunia, nah yang belum berhasil diganti sekarang adalah Pancasila dan Pembukaannya. Mungkin saja itu tidak perlu diganti, karena itu kan bahasa bunga, bahasa basa basi, bahasa yang diperlukan untuk menunjukkan negeri ini masih sesuai para pejuang bangsa. Eh iya, ada sih tujuh kata harus diamputasi dari situ, itu saja sudah penjarahan habis amanat rakyat ya. Jadi? Pancasila dan Pembukaan, engkau hanya tinggal menunggu waktu untuk dijarah habis oleh para penikmat dunia.

Penikmat dunia, ya penikmat dunia itu apa mereka tak beragama? Tidak mungkinlah, negeri ini kan penganut basa-basi formalitas agama, jadi pasti mereka itu beragama, bahkan Indonesia kan memang dihuni oleh 85-90% ummat Islam, dan sebagian sisanya beragama Katholik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan Kepercayaan. Jadi? Jelas negeri kita pasti dikelola oleh pola yang sama dari struktur statistik seperti itu. Artinya, ya Indonesia ini adalah negeri religius, negeri ber-Tuhan-kan, mayoritas Allah Subhanahu wa Ta'ala. Betul kan? Mereka, apalagi yang menduduki jabatan strategis di atas, kalau sudah musim Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal, Nyepi, dan semua gagasan tentang Ketuhanan selalu paling rapi, paling banyak nyumbang, paling getol mengadakan acara-acara formal yang penuh gebyar, malah kalau perlu jadi pemateri utama Kajian Ramadhan, Diskusi Puasa, Buka Puasa dan apalah itu yang semua kalau perlu disajikan di televisi, kalau untuk bulan Ramadhan ini ya full sebulan mereka berbalut jenggot, sorban, baju gamis, dan wis to apa aja demi meyakinkan pemirsa memandang wajah mereka sebagai pengiman tertinggi. Bener-bener yah, agama sudah jadi dievolusikan pula, diinjeksikan pada substansi kejahatan puncak dunia, yaitu Berhala. Berhala sekarang sudah tak lagi berbentuk lawan dari Agama. Dunia posmodernisme sekarang telah berani face-off sistem kenabian Musa, Ibrahim, Isa, Muhammad menjadi pengiman sekaligus pendosa, bertakwa sekaligus penjarah negeri. Anda di mana dan mau ke mana?

Masih kuatkah kita berada di dunia yang tak lagi lepas dari berhala material, malah sekarang telah berbentuk berhala substantif, lebih jauh bergerak menuju Berhala Agamis? Apakah memang hanya ini yang bisa kulakukan, bergerak di jalan sunyi, berinfak di masa sulit, berzikir di keramaian dunia, sembari Bismillah dan selalu tersenyum bersiap lahir-batin sesuai titah-Nya? Apakah memang tak ada harapan lagi untuk kita, dan menjadi pentingkah Qur'an Surat Al Kahfi ayat 15-17 yang mengatakan bahwa: 

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (?)

Memang, menggerakkan perubahan itu tak cukup hanya komitmen oral, energi, bahkan kehadiran, bila perlu segala hal yang ada di kita, membuat comfort zone deklinatif sampai titik nadir, bahkan hidup, harta dan materi dipertaruhkan. Menggerakkan perubahan memang harus siap plus ikhlas di-kadal-in pada tiap aksi basa basi bahkan niat selfish "berbulu" ummat, harus siap dianggap bermimpi, dilecehkan, bahkan ditinggal kawan, sekaligus sasaran tembak lawan. Astaghfirullahal adzim. Semoga yang tertulis itu hanya mimpi buruk penulis. Gusti paringono dalem kesabaran dan kekuatan menghadapi itu semua.  Wallahu a"lam.

Penulis : Aji Dedi Mulawarman

Aktivis Rumah Peneleh dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Singosari, 21 Ramadhan 1437 H - 26 Juni 2016

Baca Juga

 

Berita Daerah  -  Selasa, 26 September 2017 05:47
Bus Kota tak Beroperasi, Pemkot Mataram Merugi 

PENELEHNEWS.COM, Mataram- Operasional Bus Rapid Transit (BRT) atau jalur khusus bus kota, hingga kini belum jelas. Dishub Pemkot Mataram pun merugi. Kendaraan bus yang merupakan bantuan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terlihat . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:39
Masyarakat Desa Sera Tengah Sumenep Peringati Bulan Moharrom dengan Tradisi Sorah

PENELEHNEWS.COM, Sumenep- Masyarakat Desa Sera Tengah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, memperingati bulan Muharrom dengan tradisi Sorah, yaitu mengantarkan Ghenthar Sorah ke sanak famili dan tetangga dekat. Tradisi ini dilakukan . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:21
IIBF Gelar Diskusi "Juguran Peradaban Hijrah untuk Negeri".

PENELEHNEWS.COM, Purwokerto - Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) mengadakan kegiatan dengan tema "Juguran Peradaban Hijrah untuk Negeri". Acara yang diselenggarakan di Pendopo Dirjo Putro Jl. Supriyadi no. 3 Purwokerto, Jawa . . .
Selengkapnya

 

Berita Daerah  -  Senin, 25 September 2017 05:02
Bank Indonesia bersama Masyarakat Ekonomi Syariah Banyumas Selenggarakan Diskusi "Kemandirian Ekonomi Pesantren"

PENELEHNEWS.COM, Purwokerto- Bank Indonesia (BI) dan Masyarakat Ekonomi Syariah Banyumas bekerjasama melakukan diskusi bertema "Kemandirian Ekonomi Pesantren". Acara tersebut dilaksanakan di Gedung BI Perwakilan Purwokerto, pada . . .
Selengkapnya

 

Humaniora  -  Minggu, 24 September 2017 08:06
Aktivis Peneleh Regional Jakarta dan Pos Solidaritas Umat LDK Syahid Adakan Kegiatan "Sehari Bersama Anak Kampung Pemulung", Ciputat Tangerang Selatan

PENELEHNEWS.COM, Tangerang- Aktivis Peneleh Regional Jakarta bekerja sama dengan Pos Solidaritas Umat (PSU) LDK Syahid akan mengadakan Bakti Sosial di Kampung Pemulung, Ciputat, Tangerang Selatan. Bakti sosial yang mengangkat . . .
Selengkapnya